Seniman sejumlah negara kolaborasi seni peduli lingkungan

Sejumlah seniman dari berbagai negara tampil berkolaborasi dalam pertunjukan seni yang bertema tentang lingkungan saat kegiatan panggung gembira peresmian kantor Yayasan Manik Bumi di kawasan Pantai Indah, Singaraja, Buleleng.

“Selain penampilan seniman di panggung seni, di dalam kantor Manik Bumi juga diselenggarakan pameran berbagai karya seni, seperti lukisan maupun instalasi karya sejumlah seniman,” ujar Pendiri Manik Bumi Foundation, Juli Wirahmini, di Singaraja, Minggu.

Dalam kegiatan yang diselenggarakan sejak Sabtu (3/11) itu, para seniman dari 11 negara tersebut menampilkan sejumlah garapan seperti teater dan pembacaan puisi.

Sebelumnya, selama sepekan, para seniman yang berasal di antaranya dari Amerika Serikat, Eropa, Afrika, Asia termasuk seniman Indonesia dan Bali tersebut berkumpul dan mengeksplorasi gagasan untuk membuat karya kolaboratif dalam agenda Gong Laut International Forum.

Penampilan tersebut seperti Samar Gantang yang membacakan puisi, kolaborasi duet seniman sekaligus penyair asal Bali, Cok Sawitri dengan penyanyi Ayu Laksmi, dan kolaborasi seniman “plastikologi” Made Bayak dengan Guy Helminger asal Belanda yang menampilkan pertunjukan tarian Legong yang diikat plastik.

Juli Wirahmini mengatakan, kegiatan SBOBET panggung gembira dan aksi bersih pantai itu diselenggarakan selain untuk memeriahkan peresmian kantor Manik Bumi di Kota Singaraja, juga untuk mengenalkan yayasan yang berdiri sejak tahun 2013 tersebut kepada masyarakat luas.

“Sebelum kami menentukan akan pindah ke tempat ini (Pantai Indah), keadaan pantai di sini masih sangat kotor. Sampah plastik masih banyak bahkan di sini. Kemudian kami bekerjasama dengan pihak desa untuk menjaga pantai ini menjadi bersih. Kebersihan pantai ini penting salah satunya karena kami ingin menjaga kelestariannya disaat nanti musim Penyu bertelur,” katanya.

Untuk menjaga kondisi kebersihan Pantai Indah, ia menjelaskan, pihaknya akan melakukan komitmen dan melakukan gerakan bersih pantai secara rutin dan berkesinambungan.

“Jadi tidak hanya pada saat event ini saja, tetapi kami juga akan membuat sebuah program aksi bersih pantai setiap minggu sekali walaupun dalam skala kecil,” katanya.

Paduan suara UGM juara Festival Folklor Nusantara

Jakarta (ANTARA News) – Perhimpunan Alumni Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (HIMPUNI) mengadakan kompetisi paduan suara tingkat mahasiswa bertajuk Festival Folklor Nusantara 2018.

Kompetisi ini diadakan untuk menyambut perayaan Hari Sumpah Pemuda ke-90. Sebanyak 56 perguruan tinggi dari seluruh Indonesia mengikuti kompetisi Festival Folklor Nusantara 2018 ini.

Pada babak final dipilih sebanyak 12 finalis yang akhirnya mengerucut menjadi tiga terbaik pilihan dewan juri yang terdiri dari Budi Susanto Yohanes, Aning Katamsi, Jessica Amadea, Roni Sugiarto, dan Abby Galant Thahira.

Paduan Suara Mahasiswa Universitas Gadjah Mada berhasil menjadi juara pertama, diikuti oleh Paduan Suara Mahasiswa Universitas Sanata Dharma di posisi kedua, dan Paduan Suara Mahasiswa Universitas Negeri Malang di posisi ketiga.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi yang juga merupakan Koordinator Presidium II HIMPUNI menyambut baik adanya kompetisi Folkror Nusantara 2018 tingkat perguruan tinggi ini.

Menurutnya kompetisi ini menjadi ajang bagi generasi muda dalam mengekspresikan cinta tanah air dan memelihara semangat sumpah pemuda sbobet indonesia.

“Luar biasa adik-adik peserta dari seluruh Indonesia begitu semangat menunjukkan apa yang dicanangkan 90 tahun lalu itu hadir hari ini,” ucap Budi Karya Sumadi dalam sambutannya dalam acara Festival Folkror Nusantara 2018 di Auditorium Kementerian PUPR, Jakarta, Sabtu.

“Budaya, seni, dan lagu kita pilih sebagai hal universal yang dapat kita jadikan tali pengikat diantara kita bahwa kita Indonesia,” tambahnya.

Ketiga juara tadi mendapatkan penghargaan berupa Piala Presiden dan uang pembinaan dengan total mencapai Rp180 juta. Arief Budhy Hardono selaku Wakil Presidium II HIMPUNI berharap kompetisi Folkror Nusantara ini bisa terus terselenggara dan dari ajang ini bisa melarikan pemimpin bangsa di masa mendatang.

“HIMPUNI berharap dari peserta festival ini bisa menjadi pemimpin bangsa pada usia Indonesia 100 tahun di 2045 mendatang,” pungkas Arief Budhy Hardono.

Baca juga: Tina Toon: kaum milenial mengedepankan persatuan, nasionalisme, dan toleransi

Baca juga: Oppie Andaresta memaknai Hari Sumpah Pemuda

Pewarta: Yogi Rachman
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Festival Isola Menari 12 Jam Nonstop

Festival Isola Menari 12 Jam Nonstop

Peserta menari saat Festival Isola Menari 12 jam nonstop di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di Bandung, Jawa Barat, Rabu (12/12/2018). Isola menari 12 jam nonstop yang digelar setiap tahun tersebut merupakan ekspresi tari dalam merespon kehidupan sosial masyarakat di Indonesia. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/hp.

4.000 anak pecahkan rekor menari zapin di Jambi

Jambi (ANTARA News) – Lebih dari 4.000 murid Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) se-Kota Jambi pada Minggu memecahkan rekor Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI) untuk kategori penampilan tari Zapin Berayun Budayo Jambi dengan peserta terbanyak.

“Ini merupakan penghargaan rekor muri yang kelima, pemecahan rekor MURI ini dilakukan setiap tahun mulai dari tahun 2014, dengan penampilan yang berbeda,” kata Wali Kota Jambi Syarif Fasha.

Manajer Senior MURI Yusuf Ngadri menyaksikan anak-anak usia dini kompak menari zapin dengan panduan dari pemandu yang berdiri di podium di depan mereka di lapangan Balai Kota Jambi. Semua peserta kegiatan pemecahan rekor itu mengenakan batik lokal khas Jambi.

“Semua potensi ekonomi juga berdampak, karena seluruh peserta ini setelah dihitung-hitung membutuhkan 4.000 meter kain batik, tentu ini berdampak pada pengrajin batik lokal,” kata Fasha.

Pemerintah kota menggelar acara itu dalam upaya mengenalkan kekayaan seni dan budaya lokal kepada anak-anak usia dini.

“Ini juga sebuah pengenalan budaya lokal agar tetap dicintai dan dilestarikan,” kata Yusuf Ngadri.

Menurut informasi di laman resmi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Jambi tari zapin merupakan hasanah tarian rumpun Melayu yang mendapat pengaruh dari seni budaya Arab. Banyaknya warga Melayu keturanan Arab di daerah Jambi seperti Kampung Manggis membuat tarian itu berkembang di kalangan masyarakat.

 Baca juga:
Zapin Senggayong wakili RI di Festival Muara Singapura
Medan lestarikan tarian zapin Labuhan

 

Pewarta:
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Pesona alat musik Sape Kalimantan pukau penonton Ekuador

London (ANTARA News) – Musisi muda asal suku Dayak Kenyah yang juga mahasiswa program Master di ISI Yogya, Uyau Moris, yang memainkan alat musik tradisional Sape suku dayak mendapat sambutan meriah di Ekuador.

Seniman Uyau Moris mengikuti rangkaian kegiatan atas kerjasama KBRI Quito dengan beberapa pihak di Loja dan Quito, Ekuador sejak tanggal 16 hingga 23 November lalu, demikian keterangan KBRI Quito yang diterima Antara London, Rabu.

Uyau Moris tampil dan berpartisipasi pada the 3rd Loja International Festival of Performing Art. Festival internasional yang diadakan Municipality of Loja dan Ministry of Cultural and Heritage of Ecuador itu meliputi pertunjukan musik, tari, teater, drama musikal, pantomime dan akrobatik yang diikuti seniman dari berbagai negara, seperti Spanyol, Mexico, Peru, Colombia, Jepang, Cuba, Argentina, Chile, dan Indonesia.

Festival yang diikuti sekitar 400 seniman, artis internasional serta ribuan artis dan seniman Ekuador tersebut menampilkan beragam kegiatan seni.

Pada penampilan pertamanya bertempat di Circuito de la Cultura yang merupakan panggung terbuka, Uyau Moris, dan dua penari dari KBRI Quito menampilkan musik dan tari yang menarik perhatian dan mendapatkan apresiasi yang sangat baik dari 150 penonton yang hadir.

Pada hari kedua, Uyau Moris memdapat kesempatan tampil di salah satu teater Teatro de Artes Segundo Cueva Celi.

Uyau Moris membawakan tujuh lagu daerah yaitu Papat Pibui, Menu Lepu, Soul of Borneo, Mohing Asang, Jungle Song, Hope dan lagu Lan E Tuyang yang berkolaborasi dengan penari dari KBRI yaitu Vera yang menari bersama Uyau Moris.

Berbeda dari pertunjukan sebelumnya, Uyau Moris membawakan satu lagu Pop berbahasa Spanyol yang sangat populer baik di Ekuador maupun di Indonesia, lagu Despacito yang dimainkan Uyau menggunakan alat musik tradisional Sape yang membuat decak kagum penonton yang ikut bernyanyi bersama.

Pada mulanya, Uyau Moris hanya mendapatkan dua kali kesempatan untuk tampil di festival Internasional tersebut, namun setelah melihat pertunjukan yang dibawakan Uyau yang sangat memukau, Uyau mendapat kehormatan untuk tampil kembali pada pembukaan Folklore Performance yang masih dalam rangkaian the 3rd Loja International Festival of Performing Art.

Pada pembukaan Folklore Performance di Plaza Teatro Bolivar, Uyau membawakan dua lagu daerah, Soul of Borneo dan Lan E Tuyang diiringi dengan tarian. Sama halnya dengan pertunjukan yang sebelumnya, Uyau Moris menampilkan pertunjukan musik yang berbeda dari penampil lainnya, berhasil membuat decak kagum setiap alunan instrument Sape yang dimainkan.

Seusai mengikuti the 3rd Loja International Festival of Performing Art yang diadakan di Loja, Ekuador pada tanggal 16-19 November. Uyau Moris, juga melakukan rangkaian kegiatan atas kerjasama KBRI dengan beberapa pihak di kota Quito.

Pada pertunjukan pertamanya di Quito, Uyau Moris tampil memukau dihadapan mahasiswa dan akademisi Pontificia Universidad Catolica del Ecuador (PUCE) yang antusias menantikan permainan Sape dari Uyau Moris.

Uyau Moris membawakan beberapa lagu daerah yang jadi andalan dinikmati oleh kurang lebih 120 orang penonton di Auditorio de la Facultad Ciencias de la Educaci’n. Selain memainkan alat musik Sape dalam setiap lagu yang dibawakan, Uyau Moris juga memainkan alat musik tradisional Ekuador yaitu Quena yang merupakan alat musik tiup seperti suling yang didapat Uyau dari seniman Ekuador saat mereka berada dalam satu festival seni di Paris.

Pesona alat musik Sape yang dimainkan Uyau Moris disalah satu teater yang popular di Ekuador yaitu Teatro Nacional Sucre saat Uyau Moris tampil dihadapan kurang lebih 150 penonton yang berasal dari berbagai kalangan baik dari seniman, masyarakat umum, pemerintahan dan pengusaha di Ekuador.

Penampilan Uyau Moris yang didukung dengan penataan cahaya dan akustik memperkuat suasana dari setiap lagu yang mempunyai cerita dan turut larut dirasakan penonton.

Kehadiran Uyau Moris mengikuti beberapa kegiatan KBRI Quito merupakan upaya untuk memperkenalkan dan menunjukkan bahwa Indonesia memiliki begitu banyak seni dan budaya yang menawan dan salah satunya dengan alat musik tradisional Sape yang dimainkannya, serta merupakan salah satu cara untuk menarik minat wisatawan untuk lebih mengetahui potensi yang dimiliki Indonesia.

Baca juga: Tokoh adat Dayak deklarasi dukung pemilu damai

Baca juga: Para yachter disuguhi makanan tradisional suku Dayak

Baca juga: Dayak Paramasan gelar Aruh Ganal karena panen melimpah

Pewarta:
Editor: Monalisa
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Eco Fashion Week canangkan gerakan “Save The Loom”

Jakarta (ANTARA News) – Eco Fashion Week Indonesia 2018 membuat sebuah gerakan “Save The Loom” untuk menyelamatkan para penenun Indonesia.

Eco Fashion Week Indonesia 2018 mengangkat tema “Rethinking the Fashion System” sebagai bentuk tantangan untuk mengubah pola produksi dan konsumsi industri fashion dengan memperhatikan nilai etika, keseimbangan lingkungan dan kesejahteraan sosial. 

Konsep ini tidak semata tertuju kepada bagaimana menghasilkan produk fashion, namun juga kepada kesejahteraan pekerja dan kondisi lingkungan hidup.

Oleh karena itu, “Save The Loom” lahir dari pemikiran bahwa penenun adalah ujung tombak dalam menghasilkan kain cantik yang bernilai seni tinggi.

“Save The Loom” adalah gerakan aksi nyata di akar rumput yang bertujuan untuk meningkatkan kehidupan penenun, khususnya mereka yang tinggal di daerah miskin, dengan meningkatkan penggunaan bahan baku yang berasal dari kekayaan alam terbarukan, demikian keterangan yang diterima Antara, Senin.

Di Indonesia sendiri, pekerjaan penenun dianggap kurang bergengsi. Sementara itu, sebagian besar penenun tinggal di daerah miskin dan masih membutuhkan dukungan.

Gerakan ini akan membuktikan bahwa Sustainable Development Goals bukan sekadar wacana. Kampanye yang sederhana ini dapat menyadarkan masyarakat umum bahwa sehelai kain tenun dapat berperan sebagai pengendali perubahan iklim.

“Save The Loom” dirasa sangat mendesak, mengingat kejadian bencana alam yang terjadi secara berurutan mulai dari Lombok, serta Donggala dan Palu. Karena peristiwa tersebut, banyak penenun yang kehilangan pekerjaan, dan berapa keluarga yang tidak bisa melanjutkan kegiatan belajar untuk anak-anaknya. 

Eco Fashion Week Indonesia mempunyai target untuk memberikan pelatihan kepada 2.000 penenun dalam tiga tahun kedepan. Pada tahun pertama, kegiatan akan difokuskan kepada upaya “Save The Loom”. 

Pada tahun kedua, upaya pelatihan penenun akan ditingkatkan dengan dengan memasukkan komponen Land and Ocean Conservation. Sedangkan pada tahun ketiga meningkatkan materi Education It is beyond fashion.

Baca juga: Eco Fashion Week promosikan mode ramah lingkungan

Baca juga: Eco Fashion Week Indonesia akan digelar pertama kali

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Malam Kebudayaan Indonesia digelar di MSU Malaysia

Kuala Lumpur (ANTARA News) – Festival Malam Kebudayaan Indonesia 2018 yang diselenggarakan Atdikbud dan Pensosbud KBRI Kuala Lumpur berlangsung di kampus Management and Science University (MSU) Shah Alam, Malaysia, Jumat malam.

Festival yang menampilkan tari dari Sekolah Indonesia Kuala Lumpur, Institut Seni Indonesia, Persatuan Pelajar Indonesia Malaysia (PPIM) dan warga Malaysia peserta workshop budaya itu, dihadiri Dubes RI di Kuala Lumpur, Rusdi Kirana dan jajarannya serta pimpinan MSU.

Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Kuala Lumpur, Prof Dr Ari Purbayanto dalam sambutannya mengatakan Festival Malam Kebudayaan Indonesia 2018 merupakan kegiatan puncak dari Rumah Budaya yang diselenggarakan setiap tahun.

“Sekarang merupakan tahun ke tiga diselenggarakan. Acara ini diselenggarakan oleh KBRI Kuala Lumpur, Sekolah Indonesia Kuala Lumpur dan didukung oleh Presiden MSU Tan Sri Daktuk Wira Dr Muhammad Syukri Abdul Yazid,” katanya.

Ari mengatakan acara tersebut merupakan kolaborasi yang baik dan menunjukkan kolaborasi negara serumpun Indonesia dan Malaysia dalam bingkai budaya nusantara.

“Dengan diplomasi budaya harapannya hubungan kedua negara serumpun semakin kokoh dan dapat terus berjalan sepanjang masa,” katanya.

Dia mengatakan program Rumah Budaya Indonesia telah mendapatkan dukungan dari pemerintah Indonesia sejak 2016 yang diharapkan bisa terus berkembang dalam rangka mempererat hubungan kedua bangsa dan negara.

Dubes Rusdi Kirana dalam sambutannya mengatakan sebagaimana dikatakan pimpinan MSU yang terpenting adalah bagaimana hubungan kedua negara ini tetap baik seperti ratusan tahun lalu dan ke depan.

“Saya suka ditanya teman-teman baik di Indonesia maupun di Malaysia karena saya sudah mempunyai usaha di Malaysia mulai 1980. Kalau ada sepak bola Indonesia dan Malaysia potensi ributnya ada, kenapa ?,” katanya.

Dubes kemudian menjelaskan karena kedua negara merupakan tetangga yang dekat.

“Saya bilang kita ndak pernah main sepak bola ribut dengan Argentina karena lokasinya amat jauh. Jadi kalau sama tetangga wajar ada sedikit konflik seperti kita dengan istri. Bolak balik ketemu tetapi ada ribut juga. Nggak mungkin ribut sama istri orang lain,” katanya.

Pewarta:
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Pesta Rakyat Indonesia di Malaysia dihadiri 2.000 mahasiswa

Kuala Lumpur  (ANTARA News) – Malam puncak perhelatan Pesta Rakyat Indonesia yang digelar Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Universitas Utara Malaysia (UUM) di Kedah, dihadiri sekitar 2.000 mahasiswa. 
 
Acara  puncak yang digelar Senin malam itu mempertunjukkan berbagai kesenian antara lain tari kipas, ratoeh jaroe, tari piring, dan fashion show baju adat dari berbagai daerah di Indonesia.

Selain itu dimeriahkan band kenamaan Hotmess yang juga telah malang melintang di Indonesia dan dimeriahkan artis kenamaan Malaysia pelantun Jampi, Hael Husaini, yang mampu menghipnotis para peserta yang hadir.

Menurut Ketua PPI UUM, Dwi Intan, Pesta Rakyat Indonesia (PRI) itu diselenggarakan sebagai bentuk bakti mahasiswa Indonesia yang sedang melanjutkan studi di Malaysia kepada bangsa dan negara.

“Penyelenggaraan ini adalah bakti kita terhadap Indonesia dalam menjaga, memelihara dan mempromosikan Indonesia di kalangan mahasiswa-mahasiswa asing maupun lokal Malaysia agar Indonesia semakin dikenal, dan bagi mahasiswa supaya dapat selalu ingat dan mencintai tanah kelahiran,” jelasnya.

 Ketua Panitia PRI, Rifqi Ramadhan, senada dengan Dwi, mengatakan, acara tersebut sebagai bentuk promosi budaya, wisata dan termasuk berbagai jenis kuliner di Indonesia, dengan harapan  dapat menambah nilai jual Indonesia di mata dunia.

 “Saya sangat antusiasme sekali dengan penyelenggaraan ini, semoga setiap cabang PPI mempunyai program yang sama seperti PRI, Indonesian Day, IDfest, Infest dan sebagainya dengn tujuan akhir adalah untuk Indonesia yang lebih maju,” tambah Ketua PPI Malaysia Doni Ropawandi.

Baca juga: Pelajar Indonesia menghimpun bantuan gempa Sulteng Rp138 juta
Baca juga: PPI Dunia gelar simposium di Moskow
 

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Saat petarung beradu nyali di bawah purnama

Mataram  (ANTARA News) – Malam itu, bulan purnama berwarna merah tampak tidak malu-malu menunjukkan wujud utuhnya di atas Masjid Kuno Bayan Beleq, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat.

Sejumlah pria, dari orang tua, remaja hingga anak-anak, tanpa diperintah sudah membuat lingkaran sembari bersorak- sorai menunggu para petarung masuk ke gelanggang dan pekembar sidi (wasit pinggir) tidak kalah sibuk dengan tongkat rotan dipecut-pecutkan ke tanah untuk meminta lingkaran diperlebar.

Kegiatan malam itu adalah peresean, pertarungan para petarung bersenjatakan penjalin (tongkat rotan) dan perisai kulit kerbau yang tebal dan keras, biasa disebut oleh masyarakat Sasak, Ende.

Kegiatan itu untuk menyambut Maulid atau Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW di lingkungan masyarakat adat Bayan.

 Mereka semuanya menggunakan sapuq atau ikat kepala khas Suku Sasak serta mengenakan sarung batik sasak yang diikat dengan dodot atau ikat pinggang kain.

Mereka, wasit pinggir dan pekembar teqaq (wasit tengah) sibuk mengawasi sambil bertelanjang dada.

Tidak lama kemudian, seorang remaja mengacungkan tangannya untuk maju ke arena, dia pun membuka pakaiannya dan juga bertelanjang dada. Dukungan dari teman-temannya turut membahana.

Di seberangnya, remaja seusianya pun maju menawarkan diri menjadi lawannya. Klop sudah, ada wasit, ada petarungnya atau disebut pepadu. Mereka diberi ende, tongkat rotan dan perisai kulit kerbau tadi.

Musik tradisional pun meraung mengiringi menjelang pertarungan yang mendebarkan, yang terdiri dari gong, sepasang kendang, rincik atau simbal, suling dan kanjar.

 Alunan musik itu menambah gairah para remaja tersebut untuk segera bertarung dan mencoba menyeimbangkan suara sorak sorai.

Ketika wasit menandakan pertarungan dimulai, petarung dari sisi kiri sudah bersedia dengan tameng yang diangkat untuk melindungi bagian kepalanya. Demikian pula petarung dari sisi kanan. Mereka masing-masing mencoba mencari kelemahan lawan yang bisa dihajar oleh tongkat rotan itu.

Ketika petarung yang satu maju dan memasang tamengnya di depan kepalanya, lawannya tidak kalah gesitnya mengangkat tamengnya pula.

Pertarungan pun makin seru.

 Keringat pun terlihat basah mengilap di tubuh masing-masing petarung dari balik lampu neon yang redup, debu pun beterbangan bercampur dengan peluh mengiringi pertarungan.

Penonton juga selalu tampak bersiap-siap mundur bilamana ada gerakan ke arah mereka.

 Sesekali tampak gerakan taktis, petarung yang satu menggunakan teknik tipuan, tongkat rotan itu pun mengenai kepala lawan. Lalu ada lawan yang menyerah. Wasit langsung menghentikan pertarungan yang kesekian kalinya itu.

Tidak lama kemudian lawan yang kalah menghampiri pemenangnya dan mereka berpelukan. Tampak indah  pengakhiran ajang pertarungan mereka.

“Petarung hanya boleh menyasar ke bagian pinggang atas termasuk kepala, bagian bawah kaki dan paha tidak boleh,” kata tokoh pemuda adat Bayan dari Desa Batu Grantung, Raden Kertamaji kepada Antara.

 Pertarungan akan dihentikan jika sudah ada petarung yang menyerah atau kepala petarung yang mengeluarkan darah, dan wasit akan menyatakan siapa pemenangnya.

 Disebutkan dia, siapa saja yang menonton aksi tersebut, diperbolehkan ikut bertarung. “Jadi mereka menawarkan dirinya sendiri, tanpa ada paksaan,” katanya.

Tidak ada kata dendam seusai pertarungan, ujar dia. Penyelesaian selalu diakhiri dengan bersalaman dan berpelukan.

Ia mengatakan, pertarungan itu akan berjalan semalam suntuk. Pertarungan yang satu disusul dengan pertarungan berikutnya dengan para petarung yang maju silih berganti.

Sebenarnya untuk menyambut Maulid itu, pertarungan sudah dimulai sejak Jumat (23/11) sore yang berlangsung sampai keesokan harinya Sabtu (24/11).

Ia menjelaskan pemain musik di ajang ini memang khusus, dan telah menekuninya secara turun-temurun dari nenek moyangnya. “Para pemain musik ini hanya tampil pada Maulid saja,” katanya.

Kegiatan tahunan

Raden Kertamaji, sarjana hukum lulusan Universitas 1945 itu, menyebutkan kegiatan peresean di Kecamatan Bayan untuk memperingati Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW itu sudah lama menjadi kegiatan rutin.

“Kegiatan dilakukan di samping sejumlah masjid kuno Kecamatan Bayan,” katanya.

Sejumlah masjid kuno itu selain Masjid Bayan Beleq, di antaranya ada di Desa Barung Bira, Gubug Anyar, Desa Semokan dan Desa Beliq.  

Khusus di Masjid Kuno Bayan Beliq, pria yang akan memasuki kompleks tersebut harus menggunakan pakaian khas Sasak, yakni, apuq atau ikat kepala khas Suku Sasak serta mengenakan sarung batik sasak yang diikat dengan dodot atau ikat pinggang kain.

Jika ada yang tidak menggunakan pakaian adat itu, maka akan dilarang di pintu masuk menuju kompleks masjid tersebut. 

Sementara itu, pemangku adat Bayan dari Desa Batu Grantung, Raden Nyakrawasih, menyebutkan kegiatan peresean setiap Maulid, sudah dilakukan oleh leluhurnya secara turun-temurun.

“Sebenarnya kegiatan ini dulu dilakukan untuk mengelabui penjajah Suku Sasak,” katanya.

Penjajah zaman dahulu, kata dia, tidak suka kepada kegiatan ritual Islam termasuk Maulid Nabi. Masyarakat Bayan selalu dicurigai, sehingga untuk mengakalinya masyarakat menggelar peresean seolah-olah kegiatan adu kemampuan saja.

“Padahal itu acara rangkaian Maulid, yang puncaknya berupa acara keagamaan,” tandasnya.

Selain itu, untuk mengakalinya juga, ia menjelaskan, Maulid atau Kelahiran Nabi Muhammad SAW yang seharusnya digelar pada tanggal 12 Rabiul Awal, digelar masyarakat Bayan pada 15 Rabiul Awal.

“Sehingga penjajah tidak mengetahui adanya kegiatan peringatan Maulid, penjajah hanya mengetahui ada kegiatan peresean saja,” katanya.  

Baca juga: Tradisi kawin lari di Sade Lombok
Baca juga: Belajar dari rumah Adat Bayan

 

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Festival Endhog-endhogan

Warga berkumpul membawa ‘endhog’ (telur) yang dihias pada acara Festival Endhog-endhogan di Banyuwangi, Jawa Timur, Selasa (20/11/2018). Festival Endhog-endhogan merupakan tradisi masyarakat Banyuwangi dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad dengan cara mengarak telur yang dihias dan diarak dari lima penjuru disertai dengan bersholawat dan diakhiri dengan makan telur bersama. ANTARA FOTO/Budi Candra Setya/foc.

Seniman luar negeri ikut pagelaran seni Kediri

Kediri (ANTARA News) – Sejumlah seniman dari luar negeri ikut memeriahkan pagelaran seni budaya di Kota Kediri, Jawa Timur, yang bertajuk “Panji Mbulan” di lokasi wisata Goa Selomangleng Kediri.

Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar mengemukakan kegiatan pagelaran seni ini memang sengaja dilakukan sebagai upaya semakin mengenalkan potensi wisata serta budaya di kota ini. Kegiatan ini juga ada kolaborasi baik dengan seniman asal Indonesia hingga luar negeri.

“Berkolaborasi lebih dari sekarang dan buat acaranya jauh lebih besar. Kami sadari sebenarnya acara di Kediri ini karena di Kediri ini tidak ada destinasi wisata yang cukup menarik untuk mendatangkan orang, sehingga perlu kami buat wisata yang `by design` seperti saat ini,” katanya di Kediri, Minggu.

Ia juga menambahkan kegiatan tersebut sengaja digelar agar pemilik UMKM bisa mengenalkan berbagai produk makanan, minuman atau kerajinan asal kota ini. Pengunjung bisa menikmati wisata sekaligus makan aneka makanan dari kota ini.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur Sinarto yang juga hadir dalam acara itu mengatakan kegiatan pagelaran seni ini merupakan salah satu pola pemikiran yang cukup produktif untuk mengekspos potensi di daerah. Di Kota Kediri terdapat wisata Goa Selomanglang yang secara alam juga menarik untuk dieksplorasi menjadi tempat pertunjukan.

“Kediri itu punya Goa Selomangleng yang secara alam patut dieksplorasi menjadi tempat pertunjukan. Dari sisi historis juga punya, ada banyak kesenian yang bisa ditampilkan,” kata dia.

Ia mengapresiasi dengan pagelaran yang dibuat di Kediri ini. Terlebih lagi tema yang diambil adalah tentang Cerita Panji, dimana Panji sekarang ini menjadi salah satu pemikiran besar untuk Indonesia.

“Panji itu sekarang menjadi pikiran besar untuk Indonesia. Jika Kota dan Kabupaten Kediri untuk mengeksplorasi itu tidak ada masalah, mencoba mengungkap sejuah mana punya `performance` dan itu termasuk nilai budaya,” kata dia.

Ia juga menegaskan pemerintah provinsi juga terus melakukan pendampingan bagi pengembangan kesenian di daerah. Setiap daerah mempunyai karakter dan seni yang berbeda, yang menarik untuk dieksplorasi sebagai salah satu kekayaan budaya.

Kegiatan pagelaran seni budaya ini selain dimeriahkan seniman dari Indonesia, juga dari beberapa negara lain misalnya Spanyol, Prancis, Jerman, Tiongkok, Brazil, serta Meksiko. Mereka melakukan berbagai macam atraksi baik pertunjukan musik, teater hingga tari.

Pewarta:
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Buku Puisi Esai Indonesia-Malaysia diluncurkan

Kota Kinabalu,  (ANTARA News) – Konsul Jenderal RI di Kota Kinabalu, Malaysia Krishna Djelani bersama Menteri Pelajaran dan Inovasi Negeri Sabah, Datuk DR Yusof Yacub meresmikan peluncuran Buku Puisi Esai Indonesia-Malaysia dan Sayembara Menulis Puisi Esai ASEAN, di Bandaranjaya, Kota Kinabalu, Rabu.

Peluncuran buku karya kolaboratif penyair dari Indonesia dan Malaysia yang diberi judul “Kemilau Satu Langit” ini diselenggarakan oleh Badan Bahasa dan Sastera Sabah (Bahasa) dan Komunitas Puisi Esai Indonesia.

Acara dihadiri oleh sejumlah penulis dan penyair dari Indonesia dan Malaysia, mahasiswa serta pengamat seni dan budaya.

Dalam sambutannya, Datuk Yusof Yacub menyampaikan apresiasi dan menyambut baik penerbitan buku hasil karya penulis dari dua bangsa serumpun Indonesia dan Malaysia.

Datuk Yusof juga menyampaikan harapan agar para penulis, para penggiat budaya dan sastera nusantara untuk lebih kreatif dan mampu menelurkan lebih banyak karya sejenis di masa yang akan datang.

Sementara Konsul Jenderal RI Kota Kinabalu, Krishna Djelani, dalam sambutannya menyampaikan bahwa peluncuran buku hasil karya para penulis Indonesia dan Malaysia ini merupakan upaya yang sangat baik dan penting, sekaligus diharapkan dapat lebih mempererat kerja sama di berbagai bidang di antara kedua bangsa serumpun.

Sebelumnya, Datuk Jasni Matlani, Presiden Badan bahasa dan Satera Sabah dalam sambutan pengantarnya menyatakan bahwa kegiatan peluncuran buku tersebut sejatinya bukan hanya tentang puisi dan buku tetapi juga tentang ukhuwah.

“Budaya dan sastra dapat menjadi alat pemersatu bangsa seperti satu keluarga,” tandas Datuk Jasni.

Senada dengan Datuk Jasni, Pengurus Komunitas Puisi Esai Indonesia, Fatin Hamama R. Syam, penyair jebolan Universitas Al Azhar Kairo Mesir menyatakan bahwa peluncuran buku hasil kerja sama penulis dua bangsa ini diharapkan menjadi “titian muhibah” untuk lebih mendekatkan bangsa Indonesia-Malaysia.

Peluncuran buku dan sayembara menulis puisi esai tingkat ASEAN  ini juga diisi dengan persembahan budaya dan deklamasi pusi oleh para penyair.

Pada kesempatan tersebut, Datuk Arifin Arif, Anggota Dewan Undangan Negeri (ADUN) Daerah Membakut Sabah, berkesempatan membacakan goresan puisinya yang bercerita mengenai kepiluan tragedi bencana gempa dan tsunami Palu.

Baca juga: Puisi esai; tonggak baru sastra Indonesia
 Baca juga: Sastrawan Malaysia sebut puisi esai “sastra diplomasi” diapresiasi

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Pameran Instrumenta Sandbox

Pameran Instrumenta Sandbox

Pengunjung mengamati salah satu karya yang ditampilkan dalam pameran seni bertajuk Instrumenta 2018 Sandbox di Galeri Nasional, Jakarta, Senin (12/11/2018). Pameran Instrumenta 2018 Sandbox menyajikan 30 karya dengan konten beragam mulai dari permainan tradisional hingga multimedia yang diselenggarakan hingga 30 November 2018. ANTARA FOTO/Reno Esnir/hp.

“Baku Jaga” iringi penyambutan mahasiswa baru di Changsha

Changsha, China (ANTARA News) – Lagu berjudul “Baku Jaga” yang dinyanyikan seorang pelajar asal Palu, Sulawesi Tengah, turut mengiringi penyambutan mahasiswa baru dari Indonesia yang melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi di Kota Changsha, China.

Lagu yang dibawakan dengan apik oleh Aulia Rahmah itu mampu menciptakan suasana mengharukan dalam acara yang dihadiri sedikitnya 80 pelajar asal Indonesia di Ibu Kota Provinsi Hunan tersebut.

“Lagu ini saya persembahkan untuk orang-orang tercinta saya di Palu,” kata mahasiswi kedokteran Changsha Medical University itu, Senin.

Saat gempa bumi yang diikuti tsunami di Palu bulan lalu, dia sempat panik karena kedua orang tuanya tidak dapat dihubungi.

“Saat gempa pertama, ayah masih bisa saya hubungi. Setelah ada tsunami tidak bisa saya kontak lagi sampai keesokan harinya,” katanya mengenai kedua orang tuanya yang kini tinggal di pengungsian itu.

Dengan suara lantang dan menyayat hati, Aulia membawakan lagu itu diiringi petikan gitar teman satu kampusnya Fajar, asal Baubau.
Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia di Tiongkok PPIT Cabang Changsha, Cindy Utami Ramos menyebutkan acara penyambutan mahasiswa baru pada tahun Ini berbeda dengan tahun sebelumnya.

“Kita masih dalam suasana duka atas saudara kita yang menjadi korban bencana di Palu,” kata mahasiswi asal Tana Toraja Sulawesi Selatan itu.

Lagu “Baku Jaga” berbahasa Manado yang pernah dipopulerkan grup Band Ungu menjadi viral beberapa saat setelah bencana di Sulteng. Sigit Purnomo alias Pasha merupakan vokalis Ungu yang memopulerkan lagu itu saat belum menjabat Wakil Wali Kota Palu.

Sebelumnya PPIT telah melakukan penggalangan dana untuk korban bencana di Sulteng hingga berhasil menyalurkan lebih dari Rp200 juta.

Selain hiburan menyanyi dan menari, acara penyambutan mahasiswa baru di Changsha itu juga diisi sosialisasi Pemilu 2019 oleh Panitia Pemilihan Luar Negeri PPLN Beijing.

Mayoritas pelajar asal Indonesia di tempat kelahiran Mao Zedong pendiri Republik Rakyat China itu dikategorikan sebagai pemilih pemula pada Pemilu 2019.

Pewarta: M. Irfan Ilmie
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Festival Dongeng Internasional Indonesia 2018 angkat tema “Kisah Bahagia”

Jakarta (ANTARA News) – Festival Dongeng Internasional Indonesia 2018 resmi digelar di Museum Nasional, Jakarta, pada 3-4 November, dengan mengangkat tema “Kisah Bahagia.”

“Semua cerita dikemas dalam kisah bahagia, misalnya cerita tradisional diangkat dari sudut pandang bahagia, semua cerita akan dalam nuansa yang sama,” ujar Direktur Festival Dongeng Internasional Indonesia 2018 Widita Kustrini dalam konferensi pers di Jakarta, Sabtu.

Menurut dia, perhelatan ini untuk memenuhi rasa rindu akan kisah-kisah bahagia, sekaligus memperkenalkannya kepada anak-anak generasi selanjutnya.

Tahun ini, dua pendongeng internasional hadir untuk meramaikan Festival Dongeng Internasional Indonesia 2018 yaitu Giovana Conforto dari Italia dan Richard Dian Vilar dari Filipina.

“Saya sangat terkesan dengan jumlah partisipan yang ikut dalam acara ini. Biasanya festival dongeng hanya berukuran kecil, tapi ini sangat besar,” ujar Giovana Conforto.

Keterlibatan pendongeng asal luar negeri, menurut Widita, dapat menjadi cara baru bagi anak-anak untuk mengenal budaya negara lain dalam mendongeng.

“Negara lain banyak yang menggunakan musik, kekhasan itu lah yang akhirnya ingin diperkenalkan juga ke masyarakat Indonesia, bukan semata-mata bahasanya, tapi juga budayanya,” kata dia.

Widita mengungkapkan tahun ini ada lebih dari 100 relawan yang terlibat dalam festival, ditambah kurang lebih 40 pendongeng, serta 40 orang paduan suara dari Infinito Singers yang akan berkolaborasi bersama pendongeng.

Tidak hanya dongeng sambil bernyanyi, ada pula dongeng menggunakan boneka tangan. “Ini akan semakin menarik karena akhirnya semakin banyak jenis dongeng yang berkolaborasi,” ujar Widita.
  Suasansa salah satu panggung di mana pendongeng sedang bercerita dihadapan anak-anak dalam Festival Dongeng Internasional Indonesia 2018 di Museum Nasional, Jakarta, Sabtu (3/11/2018). (ANTARA News/Arindra Meodia)

Selain pertunjukkan, ada pula kelas workshop yang ditujukan bagi orang tua untuk mendapatkan inspirasi dalam berdongeng.

Namun, berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, tahun ini skema Festival Dongeng Internasional Indonesia akan menghadirkan kelas dongeng, kelas kriya dan pasar cerita pada hari pertama, kemudian pertunjukkan dongeng pada hari kedua.

“Tahun lalu yang datang 7 ribu orang dalam dua hari, tahun ini kami menurunkan targetnya menjadi 5 ribu orang karena formatnya yang berubah,” kata Widita.

Meski diperkirakan akan berdampak pada jumlah pengunjung, dengan skema tersebut Widita berharap pengunjung akan lebih fokus dan menikmati festival.

Seorang pengunjung, Widia Andikawati (36) yang datang bersama dua orang anaknya Adrian (5) dan Keysa (9) mengaku sangat antusias dengan adanya festival tersebut.

“Kemarin aku datang acara Ayo Dongeng Indonesia waktu Hari  Dongeng Nasional, anakku senang, makanya sekarang datang lagi. Aku tahu acaranya dari Instagram,” kata Widia.

“Waktu itu cuman satu dongeng, sekarang ceritanya banyak dan pendongengnya ada yang dari luar negeri. Walaupun anakku masih PAUD, belum masuk SD, dia bisa mengerti karena pendongeng dari Italia dan Filipina sangat ekspresif,” sambung dia.

Sejak pertama kali digelar pada 2013, Widita melihat jumlah pengunjung Festival Dongeng Internasional dan Indonesia semakin meningkat, tidak hanya dalam pertunjukkan tetapi juga dalam kelas dongeng.

“Kami benar-benar melihat geliat dongeng terus-terusan membaik. Setiap tahunnya berharap apa yang kami lakukan dapat meemberikan dampak yang dirasakan anak dan keluarga Indonesia,” ujar Widita.

Pewarta: Arindra Meodia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Art Jakarta akan masuki dekade baru pada 2019

Jakarta (ANTARA News) – Pameran seni Art Jakarta akan memasuki dekade baru pada 2019 mendatang, dan bertekad untuk memantapkan posisinya sebagai salah satu art fair terpenting di Asia.

Untuk mencapai visinya itu, Art Jakarta yang memasuki usia ke-10 tahun pada 2018 ini, melakukan sejumlah pembaruan, mulai dari menyusun manajemen baru hingga tempat penyelenggaraan yang lebih besar, bertaraf internasional, dan dengan visi-visi baru.

Art Jakarta pun mengangkat Tom Tandio, seorang kolektor seni rupa yang berperan aktif dalam dunia seni kontemporer Indonesia, sebagai Fair Director Art Jakarta, demikian disampaikan Art Jakarta dalam pernyataan persenya di Jakarta, Jumat.

Selanjutnya Tom Tandio akan menyusun tim kerja yang terdiri dari para profesional yang berpengalaman dalam medan seni rupa kontemporer di kawasan ini untuk membantunya menjalankan visi-misi Art Jakarta yang baru.

Tom Tandio pernah terlibat sebagai anggota board Jogja Biennale pada 2011-2013. Sebagai kolektor, Tom punya banyak koleksi yang berfokus pada karya seni rupa kontemporer Asia Tenggara, dan pernah dipamerkan di Song Eun Art Space, sebuah institusi seni rupa terkemuka di Seoul, Korea Selatan.
                                    
“Indonesia, khususnya Kota Jakarta, adalah salah satu pusat penting perkembangan seni rupa di kawasan Asia Tenggara, bahkan Asia. Art Jakarta dapat menjadi forum pertemuan yang baik bagi galeri peserta, seniman, kolektor, kurator bahkan masyarakat umum untuk bersama-sama meningkatkan apresiasi seni,” kata Tom.

Bagi tim manajemen Art Jakarta, keterlibatan Tom Tandio merupakan bagian penting agar Art Jakarta dapat memasuki dekade baru penyelenggaraan art fair bertaraf internasional di Jakarta.

Pengalaman dan profesionalisme Tom Tandio yang telah cukup lama terlibat dalam berbagai kegiatan seni rupa kontemporer di Indonesia dan mancanegara, khususnya dalam kegiatan art fair, diharapkan akan menjadikan Art Jakarta sebagai acara seni rupa internasional yang prestisius, setara dengan berbagai acara serupa di Asia.

Pada tahun 2019, Art Jakarta akan berlangsung pada 30 Agustus hingga 1 September di Balai Sidang Jakarta (Jakarta Convention Center) dan akan menghadirkan beragam karya seni rupa dari galeri dalam dan luar negeri, di area pameran seluas lebih dari 6.000 m2.

Baca juga: Art Jakarta 2017 tampilkan live painting “Unity in Diversity†(video)

Pewarta: Suryanto
Editor: Monalisa
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Jilbab anti tembem sabet penghargaan Kemenpora

Jakarta (ANTARA News) – Jilbab anti tembem karya Dewi Permata Sari meraih penghargaan dari Menteri Pemuda dan Olahraga.

Penghargaan tersebut diberikan kepada pemuda dan wirausaha muda yang berprestasi.

Melalui brand Kiciks Muslimah, Dewi dan suaminya, Rosy Andreas mendapat penghargaan untuk kategori wirausaha muda dan pemuda berprestasi di bidang perdagangan dan jasa.

Penghargaan ini diberikan dalam acara Malam Anugerah Kepemudaan 2018 beberapa waktu lalu. Dewi mengaku sangat bangga dan senang bisa mendapatkannya.

“Lewat brand busana muslim Kiciks yang kami kelola, dinilai sudah menginspirasi pemuda Indonesia karena berhasil menjadi couple-preneur yang sukses dengan usaha di bidang fashion dengan ide usaha yang baik dan berkembang lewat bisnis penjualan online,” kata Dewi melalui keterangan yang diterima Antara, Kamis.

Dewi menjelaskan, ide untuk membuat jilbab anti tembem merupakan salah satu nilai lebih hingga ia bisa terpilih sebagai juara 2 untuk penghargaan wirausaha muda berprestasi dari Kemenpora tersebut.
 
“Saya awalnya ikut seleksi, selanjutnya kita menceritakan keunggulan dari produk yang dijual. Dan aku cerita ide usaha hingga inspirasi khimar Antem atau anti tembem itu yang banyak digemari muslimah karena bisa menyamarkan bentuk wajah yang tembem,” terang Dewi.
 
Melalui penghargaan ini, Dewi dan Rosy berharap bisa terus menghadirkan inovasi baru dengan konsep busana syar’i yang flowery dan digemari kaum muslimah baik di Indonesia hingga ke mancanegara.

Selain jilbab antem, Kiciks Muslimah juga memproduksi dress, khimar dan mukena. Jenisnya pun berbeda-beda, ada yang untuk daily look hingga koleksi premium dengan brand “Dewi Permata”.

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Pemkot Bandung resmikan pusat kebudayaan dan kesenian

Bandung (ANTARA News) – Pemerintah Kota Bandung meresmikan kawasan pusat kebudayaan dan kesenian Teras Sunda di Cibiru, yang dirancang sebagai salah satu destinasi wisata baru di Kota Kembang.

“Teras Sunda harus menjadi destinasi wisata. Wisatawan harus datang ke sini. Ibaratnya, kalau ke Mekkah belum lengkap kalau tidak ke Madinah. Ke Kota Bandung juga belum lengkap kalau belum datang ke Teras Sunda,” ujar Wali Kota Bandung, Oded M. Danial, Rabu.

Oded mengatakan, pemerintah sengaja membangun Teras Sunda Cibiru sebagai wadah berkumpul serta kreasi dari para pegiat seni yang ada di Kota Bandung.

Ia pun meminta agar Teras Sunda Cibiru dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin seperti menggelar kegiatan budaya tiap akhir pekan.

“Kalau itu bisa dilakukan, maka bakal banyak wisatawan yang datang ke Teras Sunda ini,” kata dia.

Namun Oded mengingatkan, untuk menghadirkan wisatawan tak hanya cukup dengan atraksi. Teras Sunda juga harus menghadirkan kenyamanan dan keamanan bagi para wisatawan. Teras Sunda harus tetap bersih dan asri.

“Toiletnya juga tolong dirawat. Ini pesan saya, tolong rawat Teras Sunda ini,” kata dia.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bandung, Kenny Dewi Kaniasari mengatakan, pembangunan Teras Sunda menggunakan anggaran sekitar Rp7,9 miliar.

Anggaran tersebut untuk membangun aula, rumah seniman, tempat workshop,dan mushola. Sedang untuk interior, baru akan dianggarkan pada tahun 2019 mendatang.

“Tempat ini memang akan menjadi laboratorium seniman Kota Bandung. Para seniman berkarya dan menciptakan seninya di sini. Kemudian juga bisa dipamerkan atau dipertunjukan di sini juga,” tutur Kenny.

Senada dengan Oded, Kenny juga berharap, seniman dan warga yang aktif di Teras Sunda ikut merawatnya. Karena merawat akan lebih sulit dibandingkan sekedar membangun.

“Mari kita rawat dan jaga bersama-sama Teras Sunda Cibiru ini,” katanya.

Teras Sunda didominasi oleh bambu. Bambu dipilih karena bambu menjadi salah satu ciri budaya Sunda. Bambu juga dinilai lebih dekat dengan alam.

Baca juga: Chongqing siap bantu selesaikan monorel di Bandung

Baca juga: Gubernur enggan tanggapi polemik Sekda Kota Bandung

Pewarta:
Editor: Monalisa
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Lukisan buatan artificial intelligence terjual Rp6,5 miliar di Christie’s

Jakarta (ANTARA News) – Sebuah karya seni hasil sebuah program kecerdasan buatan alias  artificial intelligence (AI) terjual 432.500 dolar AS atau sekira Rp6,5 miliar di balai lelang Christie’s, 45 kali perkiraan tertinggi.

Lukisan berjudul “Portrait of Edmond Belamy” kreasi perkumpulan seni berbasis di Paris; Obvious, dibuat menggunakan algoritma dan satu set data dari 15.000 potret yang dilukis antara abad ke-14 dan ke-20, Times, Jumat (26/10).

Lukisan itu terjual saat ada gelaran diskon Prints & Multiples pada 23-25 Oktober 2018 di Christie’s, menjadikannya karya seni AI pertama yang dilelang sebuah rumah lelang besar Christie’s.

Kelompok seni terdiri dari Hugo Caselles-Dupré, Pierre Fautrel dan Gauthier Vernier, menggunakan metode yang disebut generative adversarial network (GAN) atau jaringan permusuhan generatif – untuk mengeksplorasi persimpangan seni dan kecerdasan buatan.

Di bagian tanda tangan, lukisan potret buram itu ditandatangani dengan sebuah rumus persamaan yang digunakan untuk menghasilkan lukisan. 

Proses itu melibatkan pemberian satu set lukisan untuk menghasilkan gambar berdasarkan perbedaan antara pekerjaannya sendiri dan karya aslinya.

“Kami melakukan beberapa pekerjaan dengan nudes dan lanskap, dan kami juga mencoba memberi sejumlah set algoritma dari karya-karya pelukis terkenal. Tapi kami menemukan bahwa lukisan potret adalah cara terbaik untuk menggambarkan maksud kami, yaitu bahwa algoritma dapat meniru kreativitas, ”kata Hugo Caselles-Dupré dari Obvious.

Lukisan potret tersebut telah menarik sejumlah besar perhatian media, beberapa di antaranya berspekulasi tentang apa arti kecerdasan buatan untuk masa depan seni.

“AI hanyalah salah satu dari beberapa teknologi yang akan berdampak pada pasar seni di masa depan – meskipun terlalu dini untuk memprediksi perubahan apa yang mungkin terjadi,” kata spesialis Christie, Richard Lloyd.

Baca juga: Christie`s akan lelang jam tangan langka milik Raja Mesir

Penerjemah: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Pameran “Batik 3 Negeri” berlangsung pada 25-27 Oktober 2018

Jakarta (ANTARA News) – Batik Tiga Negeri merupakan salah satu gaya batik yang sudah ada sejak 1910, namun tidak banyak masyarakat yang mengenal tentang sejarahnya. Oleh karena itu, diadakan sebuah pameran bertajuk “Batik 3 Negeri Solo – Sebuah Legenda”.

Batik Tiga Negeri secara umum memiliki tata warna merah, biru dan soga meski dalam perkembangannya terdapat penambahan warna lain seperti hijau dan ungu. Motif utama dalam batik ini berupa buketan, daun dan bunga.

Di Solo, batik Tiga Negeri secara eksklusif dibuat oleh pengusaha batik peranakan Tionghoa. Ny. Tjoa Giok Tjiam adalah pengusaha batik peranakan yang pertama kali mempopulekan batik ini pada tahun 1910.

Batik Tiga Negeri sangat unik karena proses pembuatannya dilakukan di sentra batik yang berbeda, misalnya untuk warna merah dibuat di Lasem dan biru serta soga dibuat di Solo.

Batik ini sendiri memiliki banyak peminat di daerah Jawa Barat sehingga membuka peluang bagi pengusaha batik peranakan lainnya di Solo untuk memproduksi batik sejenis dengan nama yang sama.

“Kami memutuskan membuat pameran ini karena kolektor batik awal dan lama pasti mengoleksi kain batik Tiga Negeri. Batik Tiga Negeri ini enggak mahal tapi bagus. Jadi kami ingin mengenalkan batik Tiga Negeri, murah tapi indah dan batik ini menorehkan sejarahnya di industri perbatikan Indonesia,” ujar Dwita Herman selaku ketua penyelenggara dalam pembukaan pameran “Batik 3 Negeri” di Jakarta, Kamis.

Pameran ini akan berlangsung pada 25-27 Oktober 2018 di Nusantara Ballroom The Dharmawangsa Hotel.

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Peragaan Busana Cottonink

Model memperagakan busana persembahan “COTTONINK” pada Jakarta Fashion Week 2019 hari ke-5 di Senayan City, Jakarta, Rabu (24/10/2018). Pada peragaan busana tersebut “COTTONINK” mempersembahkan sejumlah rancangan dari beberapa artis diantaranya Isyana Sarasvati, Dian Sastrowardoyo, Vanesha Prescilla dan Raisa. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/aww.

Melukis Mural Kota Tua

Seniman jalanan melukis mural di Jalan Pintu Besar Selatan Kawasan Kota Tua, Jakarta, Selasa (23/10/2018). Kegiatan yang diprakarsai Komunitas Alumni ITB Pecinta Kota Tua Jakarta tersebut untuk memperindah kawasan tersebut serta meningkatkan kunjungan wisatawan ke Kota Tua. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/foc.

Didiet Maulana kawinkan tenun dengan Mickey Mouse

Jakarta (ANTARA News) – Seperti apa hasilnya bila karakter ikonik Mickey Mouse dikawinkan dengan tenun Indonesia? 

Perancang Didiet Maulana dari IKAT Indonesia memamerkan hasil karya berupa paduan tenun dengan karakter animasi Disney dalam peragaan busana di Jakarta Fashion Week 2019. 

Disney bekerjasama dengan label fashion Indonesia dalam rangka perayaan 90 tahun Mickey Mouse sejak tampil di film pendek “Steamboat Willie” pada 18 November 1928.

Sebanyak 12 looks ditampilkan di “Disney’s Mickey Mouse: The True Original”, Senin malam, terdiri dari variasi busana seperti kaos, terusan, kemeja, terusan, rok hingga celana pendek.

Didiet melengkapinya dengan beragam aksesoris berbau Mickey Mouse seperti sepatu hingga boneka. 

Baca juga: Denis Setiano, satu-satunya penyulih suara Mickey Mouse di Indonesia
  Koleksi IKAT Indonesia di peragaan busana Disney’s Mickey Mouse: The True Original di Jakarta Fashion Week 2019, Senin (22/10/2018) (ANTARA News/ Chairul Rohman)

Mickey Mouse selaras dengan corak tenun dengan warna-warna alam seperti merah tua dan biru. Siluet-siluet kepala tikus terkenal itu berpadu serasi tanpa terlihat mencolok.

“Menyatukannya sangat menantang… kami pilih beberapa karakter tenun ikat yang bisa nyambung dengan Mickey,” ujar Didiet sebelum peragaan busana di Jakarta, Senin petang.

Lima bulan lamanya dihabiskan oleh Didiet untuk membuat Mickey Mouse terlihat serasi dengan kekayaan kain Indonesia. 

“Saya diberi kebebasan untuk membuat any kind of product fashion,” katanya.

Baca juga: Tenun ikat Didiet Maulana jadi pakaian barbie

Didiet ingin memperlihatkan ciri khas dari tahun kelahiran Mickey Mouse, 1928. Ia memasukkan konsep art deco yang jadi tren pada masa itu ke siluet-siluet Mickey Mouse di busana-busananya.

Sebanyak 50 variasi fashion item yang harganya berkisar di atas Rp200.000 hingga Rp800.000 itu dijual secara online melalui e-commerce JD.ID.

Antusiasme penggemar Mickey Mouse terlihat dari ludesnya beberapa produk, seperti kemeja dan kaos meski busana itu baru resmi dirilis usai peragaan busana malam ini. 

Selain IKAT Indonesia, koleksi yang terinspirasi Mickey Mouse juga dihadirkan oleh Matahari, Pop U, SUQMA dan UBS Gold.

Baca juga: Didiet Maulana: Kain Ikat bentuk komitmen saya

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Festival Gerobak Sapi

Sejumlah peserta mengikuti pawai saat Festival Gerobak Sapi (FGS) DI Yogyakarta 2018 di Wedomartani, Ngemplak Sleman, DI Yogyakarta, Minggu (21/10/2018). Acara yang diikuti ratusan peserta itu menjadi salah satu bentuk pelestarian dan pengenalan transportasi tradisional gerobak sapi kepada masyarakat maupun wisatawan. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/ama.