Lukisan buatan artificial intelligence terjual Rp6,5 miliar di Christie’s

Jakarta (ANTARA News) – Sebuah karya seni hasil sebuah program kecerdasan buatan alias  artificial intelligence (AI) terjual 432.500 dolar AS atau sekira Rp6,5 miliar di balai lelang Christie’s, 45 kali perkiraan tertinggi.

Lukisan berjudul “Portrait of Edmond Belamy” kreasi perkumpulan seni berbasis di Paris; Obvious, dibuat menggunakan algoritma dan satu set data dari 15.000 potret yang dilukis antara abad ke-14 dan ke-20, Times, Jumat (26/10).

Lukisan itu terjual saat ada gelaran diskon Prints & Multiples pada 23-25 Oktober 2018 di Christie’s, menjadikannya karya seni AI pertama yang dilelang sebuah rumah lelang besar Christie’s.

Kelompok seni terdiri dari Hugo Caselles-Dupré, Pierre Fautrel dan Gauthier Vernier, menggunakan metode yang disebut generative adversarial network (GAN) atau jaringan permusuhan generatif – untuk mengeksplorasi persimpangan seni dan kecerdasan buatan.

Di bagian tanda tangan, lukisan potret buram itu ditandatangani dengan sebuah rumus persamaan yang digunakan untuk menghasilkan lukisan. 

Proses itu melibatkan pemberian satu set lukisan untuk menghasilkan gambar berdasarkan perbedaan antara pekerjaannya sendiri dan karya aslinya.

“Kami melakukan beberapa pekerjaan dengan nudes dan lanskap, dan kami juga mencoba memberi sejumlah set algoritma dari karya-karya pelukis terkenal. Tapi kami menemukan bahwa lukisan potret adalah cara terbaik untuk menggambarkan maksud kami, yaitu bahwa algoritma dapat meniru kreativitas, ”kata Hugo Caselles-Dupré dari Obvious.

Lukisan potret tersebut telah menarik sejumlah besar perhatian media, beberapa di antaranya berspekulasi tentang apa arti kecerdasan buatan untuk masa depan seni.

“AI hanyalah salah satu dari beberapa teknologi yang akan berdampak pada pasar seni di masa depan – meskipun terlalu dini untuk memprediksi perubahan apa yang mungkin terjadi,” kata spesialis Christie, Richard Lloyd.

Baca juga: Christie`s akan lelang jam tangan langka milik Raja Mesir

Penerjemah: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2018