Wamenlu Meksiko sebut fleksibilitas sebagai keunggulan MIKTA

Yogyakarta (ANTARA News) – Wakil Menteri Luar Negeri Meksiko Julian Ventura Valero menyebut sifat fleksibel dan informal MIKTA sebagai keunggulan forum kerja sama tersebut.

Kelompok yang beranggotakan Meksiko, Indonesia, Korea Selatan, Turki, dan Australia dinilai telah melampaui harapannya karena kelima anggotanya memiliki keleluasaan untuk menentukan agenda prioritas dan bicara mengenai hal-hal yang dianggap penting pada waktu tertentu.

“Nilai dan keunikan MIKTA adalah kemampuan untuk beradaptasi dan memodifikasi prioritas seiring kami melangkah maju,” kata Julian kepada ANTARA usai Pertemuan Tingkat Menteri Luar Negeri MIKTA ke-14 di Yogyakarta, Kamis (7/2).

Sebagai ketua MIKTA untuk 2019, Meksiko memilih tema “Pembangunan Sosial, Pemerintahan Global, dan Masa Depan yang Berkelanjutan”. Meksiko ingin MIKTA dapat lebih memberikan dampak konkret sesuai kebutuhan masyarakat.

“Agenda yang kami kembangkan masuk ke jantung kebutuhan masyarakat, yaitu pembangunan, inklusivitas, kemakmuran. Dan dalam hal tata kelola, bagaimana kita bisa mengusulkan strategi baru dan ide-ide baru untuk membantu mereka di tingkat nasional,” ujar Julian.

MIKTA dibentuk pada 2013 di sela Sidang Umum PBB di New York sebagai forum kerja sama konsultatif untuk membahas berbagai isu strategis global dan kawasan. 

Kemitraan ini juga bertujuan mendukung pemerintahan global yang efektif.

Kelima negara anggota MIKTA adalah negara anggota kelompok ekonomi G20 dengan PDB relatif serupa dan sama-sama bertujuan untuk memastikan sistem tata kelola global bermanfaat untuk semua negara. 

Baca juga: Meksiko fokus pada kesejahteraan sosial sebagai ketua MIKTA 2019

Menurut Julian, Meksiko telah mendapatkan manfaat nyata melalui dialog dan tukar-menukar pandangan atau pengalaman dalam penanganan sebuah isu, salah satunya dari Indonesia.

Pengalaman Indonesia dalam memajukan ekonomi inklusif serta pencegahan dan pengurangan risiko bencana, adalah beberapa hal yang dapat dicontoh oleh Meksiko, yang memiliki permasalahan serupa.

“Ini menunjukkan bahwa kondisi geografis yang jauh dan tingkat pembangunan yang berbeda-beda tidak menjadi penghalang kami untuk dapat memperoleh manfaat dari bertukar pengalaman dengan melihat strategi dan pengalaman negara lain yang sangat positif,” tutur Julian.

Meskipun demikian, Julian menegaskan bahwa pemerintah Meksiko, seperti juga empat negara anggota lainnya, tidak berniat menjadikan MIKTA sebagai kerja sama formal.

“Saya pikir kelima negara anggota selalu menginginkan sesuatu yang bukan bersifat formal, yang biasanya memiliki mekanisme dan prosedur yang sangat spesifik dalam agenda yang sangat kaku. Karena kekakuan membawa kebuntuan, padahal saya pikir sangat penting untuk kita menjadi kreatif. Itu tujuan utama kami,” kata Julian.

Baca juga: Indonesia berupaya “membumikan” MIKTA

Baca juga: Pertemuan MIKTA ke-14 bahas penanganan isu global

Pewarta: Yashinta Difa Pramudyani
Editor: Azizah Fitriyanti
COPYRIGHT © ANTARA 2019